BISIKAN DALAM KEHENINGAN (Part 2)

Aku masih ingat jelas hari itu, ya.. hari di mana aku baru beberapa hari bersekolah di SD Pertiwi, ya.. di sana lah aku bersekolah, sekolah yang terletak di dekat area perumahan tua peninggalan jaman belanda, maklum saja kakek ku adalah seorang veteran yang dulu pernah ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jadi mulai dari ayah ku, kakak-kakak ku dan aku bersekolah di tempat yang sama. 
“hai.. salam kenal nama ku Helena, nama kamu siapa?” sapa seorang anak kecil berpakaian jadul itu mengejutkan ku yang sedang terdiam sendiri sambil memandangi lingkungan sekolah, aku tidak tau siapa dia pakaian yang ia kenakan mirip seragam sekolah ku, walaupun ada detail yang sedikit berbeda dan terlihat sudah usang seperti sudah lama di kenakan “ha,,hai.. aku flora” jawab ku terbata-bata sambil tersenyum. “emmhh.. kamu ko sendirian aja sih? Aku temenin boleh?” Helena kembali bertanya sambil berusaha mengakrabkan diri pada ku. “boleh ko.. aku murid baru di sini, baru beberapa hari jadi aku belum punya temen, aku malah seneng kalo ada yang mau nemenin, kalo kamu udah berapa lama di sini?” tanya ku pada Helena “mau aku kasih tau satu rahasia gak? Sebenernya aku udah lama ada di tempat ini bahkan mungkin sebelum kamu lahir” jawab nya dengan senyuman kecil yang membuat ku merinding. “gak mungkin.. jangan becanda deh, usia kamu aja sekarang hampir sama sama aku” jawab ku keheranan, Helena hanya tersenyum mendengar sanggahan ku. “eh.. udah waktu nya masuk kelas tuh, kamu masuk gih aku mau pulang dulu” ujar Helena mengalihkan pertanyaan ku.. “hah? Pulang emang kamu gak mau masuk sekolah? Terus ngapain kamu pake seragam?” tanya ku semakin heran, dan lagi-lagi ia tidak menjawab ia hanya tersenyum sambil beranjak pergi, “tunggu..!! rumah kamu di mana atau kalo aku mau ketemu kamu aku harus kemana?” tanya ku sambil berteriak menghentikan langkah nya yang mulai menjauh.. “datang aja ke sana, dan aku akan nemuin kamu di sana” jawab nya sambil menunjuk kearah perumahan tua di belakang sekolah, tanpa banyak tanya lagi aku pun beranjak menuju kelas ku, namun tak tau kenapa rasa nya aku ingin sekali menoleh kebelakang untuk melambai kan tangan kepada Helena sebelum berpisah, namun ketika aku berbalik dia sudah menghilang entah kemana, “cepat sekali jalan nya” kata ku dalam hati.  
Satu minggu telah berlalu sejak pertemuan ku saat itu dengan Helena, tapi aku masih saja penasaran tentang sosok nya yang misterius, hingga rasa penasaran ku membuat ku mengatakan kebohongan kecil pada ibu ku, “bu.. hari ini kan hari minggu tapi flora ada tugas kelompok dari bu guru, boleh ya flora pergi ke rumah temen flora? Sebentaaarrr aja” Pinta ku dengan polos, “boleh sayang.. tapi pulang nya jangan kesorean ya? Emang nya rumah temen kamu di mana? Nanti biar ibu anter”.. jawab ibu ku khawatir,, “g..g..gak usah bu Flora berangkat sama intan ko, anak tetangga kita itu, terus nanti juga ada temen-temen flora yang lain” sanggah ku, “ohh.. ya udah.. hati-hati ya?” ujar ibu ku, “ia, flora berangkat ya bu? Assalamu’alaikum”,, “wa’alaikum Salam” pagi itu kepergian ku mengakhiri percakapan ku dengan ibu.  
Sesampai nya di lokasi perumahan tua dekat sekolah, “Helena..!! Helena..!!” teriakan ku memangnggil –manggil Helena, aku tidak tau harus mencari nya kemana dari sekian banyak rumah yang ada di area perumahan tersebut, tapi ternyata teriakan ku mengagetkan para pemilik perumahan tersebut. “kamu nyari siapa dek?” tanya seorang nenek tua menghampiri ku “saya mencari Helena nek? Nenek kenal gak? Dia gadis kecil kira-kira seumuran saya, kulit nya putih dengan rambut sepundak, mata nya coklat dan berhidung mancung” tanya ku pada nenek itu, “nenek kurang tau dek, setau nenek kebanyakan warga yang tinggal di lingkungan perumahan ini kebanyakan orang tua dan lansia, kalopun ada anak-anak pasti cucu dan anak-anak mereka yang sedang menjenguk, mungkin teman mu itu sudah pulang, memang nya kapan kamu bertemu dia?” nenek itu kembali bertanya pada ku, “emhh sekitar satu minggu yang lalu, dia bilang kalo saya mau ketemu dia saya harus datang kesini tapi dia tidak menunjukan rumah nya” jawab ku, “satu minggu yang lalu itu tanggal berapa ya?” nenek itu terus bertanya, 16 juli 2002 nek, memang nya kenapa nek? Tanya ku penasaran, “tt..t.. tidak,tidak apa-apa, lebih baik kamu pulang anak kecil seperti kamu tidak baik jalan-jalan sendirian” ucap nenek itu menasehati ku sambil terbata-bata seperti orang yang ketakutan, “ia nek saya nanti pulang makasih ya nek” jawab ku, nenek itu pun beranjak pergi meninggalkan ku.“Pergilah…pergilah..” sebuah suara mendesah seolah membisik dekat di telinga ku hingga membuat ku ketakutan, maklum saja saat itu aku belum menyadari kemampuan yang ku miliki hingga aku belum terbiasa dengan semua bisikan itu. Aku pun langsung beranjak pergi dengan sesal yang amat sangat di hati ku karena telah berbohong kepa ibu ku, dan aku pun belum mendapat jawaban tentang SIAPA HELENA SEBENAR NYA..??
(Bersambung)…. 

BISIKAN DALAM KEHENINGAN (Part 1)

Pagi ini aku kembali mendengar bisikan itu, bisikan yang seolah-olah memerintahkan ku untuk melakukan sesuatu.. aku tidak pernah tau dari mana asal suara itu dan sejak kapan suara-suara aneh itu mulai mengikuti ku, yang ku ingat suara itu mulai menemani ku sejak aku duduk di bangku sekolah dasar..
Sebelum aku bercerita lebih jauh izin kan aku untuk memperkenalkan diri ku terlebih dahulu, nama ku Flora begitu lah orang-orang akrab memanggil ku, aku mahasiswi semester 4 di sebuah perguruan tinggi, usia ku belum genap 19 tahun, dan di usia ini ada rahasia yang sudah aku simpan bertahun-tahu lama nya yang akan mulai ku bagi pada kalian..
Semua  bermula dari kebiasaan ku yang suka menyendiri, mungkin lebih tepat nya terbiasa sendirian, sejak kecil orang tua ku telah melatih ku untuk mandiri dan memenuhi hidup ku dengan berbagai macam aturan ya.. seperti orang tua pada umum nya, mereka melakukan itu atas dasar kasih sayang, dan aku pun selalu mencoba meyakini nya, namun fakta nya hingga saat ini, hingga usia ku hampir menginjak 19 tahun, tak banyak kisah hidup ku yang aku cerita kan pada keluarga ataupun orang tua ku, alasan nya sederhana hanya karena “rasa takut” ya.. takut, takut di marahi ataupun membebani.. selain itu aku orang yang sulit berbaur, aku memang mempunyai banyak teman tapi hanya segelintir orang yang dapat di jadikan sahabat, dan banyak hal lagi yang sering kali memposisikan ku dalam kesendirian..
Di dalam keheningan banyak hal yang bisa ku dengar,, mulai dari hembusan angin yang seolah mengelus tubuh ku, gemericik tetesan air yang seolah alunan musik di telangi ku, hingga suara jam yang terus berdetak menemani malam sepi ku.. di keheningan pula telinga ku mulai beradaptasi dengan suara-suara yang mungkin tidak pernah bisa di dengar oleh telingga orang normal pada umum nya, ya.. sebuah bisikan, mungkin kesunyian telah membuat telinga ku peka terhadap suara-suara tersembunyi yang berbalut kesunyian itu.. (Bersambung..)

Puisi Tanpa Judul

Tuhan.. aku terjebak dalam pencarian panjang
sebuah  pencarian tentang makna kehidupan
tentang yang ada kemudian menghilang
dan tentang seperti apa aku di masa depan..

Tuhan.. sungguh aku tak pernah kehilangan keyakinan
namun, aku hanya kehilangan kebanggaan..

Bukan.. Bukan kebanggaan akan ke Esaan dan keagungan mu
bukan pula kebanggaan atas nikmat iman dan islam ku
hanya saja... aku kehilangan kebanggaan terhadap diri ku..

Aku bagaikan burung dalam sangkar
yang tidak bisa terbang
dan di paksa untuk berenang..
bagai ikan yang harus hidup di daratan
atau layak nya burung yang harus menyelami lautan...

lalu siapa yang bisa menjawab pertanyaan ku..??
sebenarnya aku siapa..? ikan itu atau kah burung itu?
apa yang dapat seekor ikan laku kan di daratan..??
dan apa yang akan seekor burung temukan di lautan??


BERBICARA TENTANG PEMILIHAN UMUM DEWASA INI

https://www.youtube.com/watch?v=86UdpAV0Mj8 Jujur saja aku baru memiliki hak pilih 3 tahun di belakangan ini, tapi sejak SD entah me...